Elemen dan Karakteristik Sistem Informasi Psikologi

Apa itu yang dimaksud dengan elemen dan karakteristik Sistem Informasi Psikologi? berikut pembahasannya..

Elemen-elemen Sistem

Menurut Laudon & Laudon (dalam Sukoco 2007) secara umum, sebuah sistem yang ideal memiliki elemen sebagai berikut:

  1. Input

Aliran sistem dimulai oleh input dari beberapa jenis sumber daya. Di dalam area kerja, jenis input yang biasa dijumpai adalah data, informasi, dan material yang diperoleh baik dari dalam maupun luar organisasi.

  1. Processing

Perubahan dari input menjadi output yang diinginkan dilakukan pada saat pemrosesan yang melibatkan metode dan prosedur dalam sistem, biasanya aktivitas ini akan secara otomatis mengklasifikasikan, mengonversikan, menganalisis serta memperoleh kembali data atau informasi yang dibutuhkan.

  1. Output

Setelah melalui pemrosesan, input akan menjadi output, berupa informasi pada sebuah kertas atau dokumen yang tersimpan secara elektronik.

  1. Feedback atau umpan balik

Pemberian umpan balik mutlak diperlukan oleh sebuah sistem, karena hal itu akan membantu organisasi untuk mengevaluasi dan memperbaiki sistem yang ada sekarang menjadi lebih baik lagi.

  1. Pengawasan

Pengawasan memiliki dimensi internal dan eksternal. Dimensi internal adalah kebijakan perusahaan dan prosedur sistem yang harus ditaati. Dimensi eksternal melibatkan negara, peraturan pemerintah, dan regulasi yang berdampak pada kebijakan sistem begitu juga etika, serta pertimbangan moral.

Karakteristik Sistem

Menurut Hutahaean (2015), sistem itu dikatakan sistem yang baik jika memiliki karakteristik sebagai berikut:

  1. Komponen

Suatu sistem terdiri dari sejumlah komponen-komponen yang saling berinteraksi, yang saling bekerja sama membentuk satu kesatuan. Komponen sistem terdiri dari komponen yang berupa subsistem atau bagian-bagian dari sistem.

  1. Batasan sistem (boundary)

Batasan sistem merupakan daerah yang membatasi antara suatu sistem dengan sistem yang lain atau dengan lingkungan luarnya. Batasan sistem ini memungkinkan suatu sistem dipandang sebagai suatu kesatuan. Batasan suatu sistem menujukkan ruang lingkup (scope) dari sistem tersebut.

  1. Lingkungan luar sistem (environtment)

Lingkungan luar sistem (environtment) adalah diluar batas dari sistem yang mempengaruhi operasi sistem. Lingkungan dapat bersifat menguntungkan yang harus tetap dijaga dan yang merugikan yang harus dijaga dan dikendalikan, jika tidak akan meengganggu kelangsungan hidup dari sistem.

  1. Penghubung sistem (interface)

Penghubung sistem merupakan media penghubung antara satu subsistem dengan subsistem lainnya. Melalui penghubung ini memungkinkan sumber-sumber daya mengalir dari subsistem ke subsistem lain. Keluaran (output) dari subsistem akan menjadi masukan (input) untuk subsistem lain melalui penghubung.

  1. Masukan sistem (input)

Masukan adalah energi yang dimasukan ke dalam sistem, dapat berupa perawatan (maintenance input), dan masukan sinyal (signal input). Maintenance input adalah energi yang dimasukan agar sistem dapat beroperasi. Signal input adalah energi yang diproses untuk didapatkan keluaran. Contoh dalam program sistem komputer adalah maintenance input, sedangkan data adalah signal input untuk diolah menjadi informasi.

  1. Keluaran sistem (output)

Keluaran sistem adalah hasil dari energi yang diolah dan diklasifikasikan menjadi keluaran yang berguna dan sisa pembuangan. Contoh komputer menghasilkan panas yang merupakan sisa pembuangan sedangkan informasi adalah keluaran yang dibutuhkan.

  1. Pengolah sistem

Suatu sistem menjadi bagian pengolah yang akan merubah masukkan menjadi keluaran. Contoh sistem produksi akan akan mengolah bahan baku menjadi bahan jadi, sistem akuntansi akan mengolah data menjadi laporan-laporan keuangan.

  1. Sasaran sistem

Suatu sistem pasti mempunyai  tujuan (goal) atau sasaran (objective). Sasaran dari sistem sangat menentukan input yang dibutuhkan sistem dan keluaran yang akan dihasilkan sistem.

Contoh elemen dan karakter sistem dari model Sistem Informasi Psikologi:

Model Sistem Psikologi

FHFG

Tes APM (Advanced Progressive Matrices) disusun oleh J. C. Raven pada tahun 1943. Tes ini digunakan untuk remaja dan orang dewasa yang diprediksikan memiliki kemampuan di atas rata-rata. Terdiri dari 2 set non verbal. Set I disajikan dalam buku tes yang terdiri dari 12 soal dan set II terdiri dari 36 soal. Waktu yang dipelukan untuk mengerjakan tes ini adalah 35 menit, dimana 10 menit untuk  pengerjaan Set I dan 25 menit untuk Set II.

Alat tes APM adalah salah satu alat tes non verbal yang digunakan untuk mengukur kemampuan dalam hal pengertian dan melihat hubungan-hubungan bagian gambar yang tersaji serta mengembangkan pola pikir sistematis yang penyajiannya dapat dilakukan secara klasikal maupun individu. APM  tidak memberikan suatu angka IQ, akan tetapi menyatakan hasilnya dalam tingkat atau level intelektualitas dalam beberapa kategori, menurut besarnya skor dan usia subjek yang di tes, yaitu:

Grade I : Kapasitas Inteletual Superior

Grade II : Kapasitas Intelektual di atas Rata-rata

Grade III : Kapasitas Intelektual Rata-rata

Grade IV : Kapasitas Intelektual di bawah Rata-rata

Grade V : Kapasitas Intelektual Terhambat

Tujuan Sistem

Untuk mengukur intelegensi sesuai level pada kemampuan dalam melihat hubungan-hubungan bagian gambar yang tersaji yang menggambarkan intelektual orang normal, disamping untuk tujuan analisis klinis.

Elemen Sistem

  1. Masukan (input) : Memasukkan identitas/userpeserta saat registrasi dan informasi ini akan menjadi bahan untuk diolah saat tahap proses.
  2. Processing : Jendela pada layar akan muncul soal-soal bergambar dan user/peserta akan menjawab soal-soal bergambar tersebut dengan memilih salah satu jawaban yang benar.
  3. Keluaran (output) : Skor atau hasil yang didapatkan dari serangkaian tes APM. Skor dari tes APM ini akan menentukan tingkat atau grade intelegensi sesuai norma APM.
  4. Feedback atau umpan balik : Mengetahui tingkat atau level intelektualitas apa yang dimiliki.
  5. Pengawasan : Adanya  sistem yang melihat umpan balik dalam mengendalikan jalannya sistem tes dari input, proses sampai output agar berjalan dengan baik dan tidak adanya eror.

Karakteristik Sistem

  1. Komponen : Bagian-bagian yang mendukung pembuatan sistem Tes APMTes APM berisi 48 soal melengkapi gambar, yang terdiri dari set I berisi 12 soal dan set II berisi 36 soal.
  2. Batasan sistem (boundary) : Adanya batasan usia yang sesuai untuk pengguna tes APM ini.
  3. Lingkungan luar sistem (environtment) : Tes APM ini berbentuk gambar sehingga bebas budaya.
  4. Penghubung sistem (interface) : Keluaran (output) dari subsistem akan menjadi masukan (input) untuk subsistem lain melalui penghubung.
  5. Masukan sistem (input) : Data user yang masuk ke dalam sistem yang telah diperoleh lalu di proses.
  6. Keluaran sistem (output) : Skor atau hasil yang didapatkan.
  7. Pengolah sistem :   Memberikan tanda (X) pada tiap kata yang dipilih atau meng-klik jawaban berdasarkan pilihan jawaban yang tersedia di bagian bawah soal.
  8. Sasaran sistem : Individu yang ingin mengetahui tingkat atau level intelektualitas apa yang dimiliki sesuai norma APM.

REFERENSI

Hutahaean, J. (2015). Konsep sistem informasi. Yogyakarta: Deepublish Publisher.

Sukoco, B. M. (2007). Manajemen administrasi perkantoran modern. Jakarta: Erlangga.

https://akarbk.wordpress.com/2011/08/13/tes-apm-advanced-progressive-matrices/

Definisi Sistem Informasi Psikologi

SISTEM INFORMASI PSIKOLOGI (SIP)

Pengertian, Ruang Lingkup, dan Sejarah Psikologi Pendidikan

Apa itu sistem informasi psikologi? mari kita bahas satu persatu..

  1. Sistem

Menurut Eriyanto (2004), sistem adalah suatu kesatuan usaha yang terdiri dari bagian-bagian yang berkaitan satu sama lain yang berusaha mencapai suatu tujuan dalam suatu lingkungan kompleks.

Menurut Jogiyanto (2005), sistem adalah suatu jaringan kerja dari prosedur-prosedur yang saling berhubungan, berkumpul bersama-sama untuk melakukan suatu kegiatan atau untuk menyelesaikan suatu sasaran yang tertentu.

Menurut Sutabri (2012), sistem merupakan suatu kumpulan atau himpunan dari unsur, komponen atau variabel yang terorganisasi, saling berinteraksi, saling tergantung satu sama lain dan terpadu.

Menurut Susanto (2013), sistem adalah kumpulan dari sub sistem apapun baik fisik ataupun non fisik yang saling berhubungan satu sama lain dan bekerja sama secara harmonis untuk mencapai satu tujuan tertentu.

Menurut Anggraeni dan Irviani (2017), sistem adalah kumpulan orang yang saling bekerja sama dengan ketentuan-ketentuan aturan yang sistematis dan terstruktur untuk membentuk satu kesatuan yang melaksanakan suatu fungsi untuk mencapai tujuan. Sistem memiliki karakteristik yaitu komponen sistem, batasan sistem, lingkungan luar sistem, penghubung sistem, masukan sistem, keluaran sistem, pengolahan sistem dan sasaran sistem.

Berdasarkan pendapat dari tokoh diatas, dapat disimpulkan bahwa sistem adalah suatu kesatuan yang terdiri dari bagian-bagian yang berkaitan satu sama lain dengan ketentuan-ketentuan atau aturan-aturan yang sistematis dan terstruktur dalam melaksanakan suatu kegiatan untuk mencapai tujuan tertentu.

  1. Informasi

Menurut Bodnar dan Hopwood (2000), informasi adalah data yang diolah sedemikian rupa sehingga bisa dijadikan dasar dalam pengambilan keputusan yang tepat dan benar.

Menurut Abdullah (2003), informasi adalah sebuah konsep yang kuat yang dapat diasosiasikan dengan beberapa penjelasan, bergantung pada kumpulan persyaratan-persyaratan dan kebutuhan-kebutuhan akan teori.

Menurut Ladjamudin (2008), informasi adalah data yang telah diolah menjadi bentuk yang lebih berarti dan berguna bagi penerimanya untuk mengambil keputusan masa kini maupun masa yang akan datang.

Menurut Kusrini dan Kaniyo (2007), informasi adalah data yang sudah diolah menjadi sebuah bentuk yang berarti bagi pengguna yang bermanfaat dalam pengambilan keputusan saat ini atau mendukung sumber informasi.

Menurut Haryadi (2009), informasi dapat didefinisikan sebagai hasil pengolahan data dalam suatu bentuk yang lebih berguna dan lebih berarti bagi penerimanya yang menggambarkan kejadian-kejadian yang nyata.

Berdasarkan pendapat dari tokoh diatas, dapat disimpulkan bahwa informasi adalah sebuah konsep data yang diolah sedemikian rupa dalam suatu bentuk yang bermanfaat bagi penerimanya sehingga bisa dijadikan dasar dalam pengambilan keputusan.

  1. Psikologi

Menurut Syah (2001), psikologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari tingkah laku terbuka dan tertutup pada manusia, baik selaku individu maupun kelompok dan dalam hubungannya dengan lingkungan. Tingkah laku terbuka adalah tingkah laku yang bersifat psikomotor yang meliputi perbuatan berbicara, duduk, berjalan dan lain sebagainya, sedangkan tingkah laku tertutup meliputi berfikir, berkeyakinan, berperasaan dan lain sebagainya.

Menurut Wade dan Tarvis (2007), psikologi adalah sebuah disiplin ilmu yang berfokus pada perilaku dan berbagai proses mental serta cara perilaku dan berbagai proses mental ini dipengaruhi oleh kondisi mental organisme dan lingkungan eksternal.

Menurut Basuki (2008), psikologi adalah ilmu pengetahuan ilmiah yang mempelajari perilaku sebagai menifestasi dari kesadaran proses mental, aktivitas motorik, kognitif, dan emosional.

Menurut Fitriyah dan Jauhar (2014), psikologi adalah sebuah bidang ilmu pengetahuan dan ilmu terapan yang mempelajari perilaku dan fungsi mental manusia secara ilmiah.

Menurut Parnawi (2019), psikologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari tingkah laku individu dalam interaksi dengan lingkungannya.

Berdasarkan pendapat dari tokoh diatas, dapat disimpulkan bahwa psikologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari tingkah laku manusia sebagai menifestasi dari proses mental, aktivitas motorik, kognitif, dan emosional, baik dengan individu, kelompok, maupun lingkungannya.

Jadi, apa itu sistem informasi psikologi?

Sistem adalah suatu kesatuan yang terdiri dari bagian-bagian yang berkaitan satu sama lain dengan ketentuan-ketentuan atau aturan-aturan yang sistematis dan terstruktur dalam melaksanakan suatu kegiatan untuk mencapai tujuan tertentu.

Informasi adalah sebuah konsep data yang diolah sedemikian rupa dalam suatu bentuk yang bermanfaat bagi penerimanya sehingga bisa dijadikan dasar dalam pengambilan keputusan.

Psikologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari tingkah laku manusia sebagai menifestasi dari proses mental, aktivitas motorik, kognitif, dan emosional, baik dengan individu, kelompok, maupun lingkungannya.

Berdasarkan definisi diatas, dapat ditarik kesimpulan bahwa sistem informasi psikologi adalah sebuah sistem atau suatu kesatuan yang sistematis dan terstruktur yang memiliki tujuan untuk menghasilkan informasi yang bermanfaat bagi penerima berupa data tentang ilmu pengetahuan psikologi mengenai perilaku manusia dan proses mental seseorang.

DAFTAR PUSTAKA

  1. Abdullah, A. (2003). Dasar-dasar ilmu perpustakaan dan informasi. Yogyakarta: Ilmu Perpustakaan dan Informasi IPI.
  2. Anggraeni, Y. E., & Irviani, R. (2017). Pengantar sistem informasi. Yogyakarta: CV Andi Offset.
  3. Basuki, A. M. H. (2008). Psikologi umum. Depok: Universitas Gunadarma.
  4. Bodnar, G. H., & Hopwood, W. S. (2000). Sistem informasi akuntansi. Jakarta: Salemba Empat.
  5. Eriyanto. (2004). Teknik dan aplikasi pengambilan keputusan kriteria majemuk. Bogor: Grasindo.
  6. Fitriyah, L., & Jauhar, M. (2014). Pengantar psikologi umum. Jakarta: Prestasi Pustaka.
  7. Haryadi, H. (2009). Administrasi perkantoran. Jakarta: Visi Media.
  8. Jogiyanto. (2005). Analisis dan desain sistem informasi. Yogyakarta: Penerbit Andi.
  9. Kusrini, & Kaniyo, A. (2007). Tuntunan praktis membangun sistem informasi akuntansi dengan visual basic dan microsoft SQL server. Yogyakarta: Penerbit Andi.
  10. Ladjamudin, A. (2008). Analisis dan desain sistem informasi. Yogyakarta: Graha Ilmu.
  11. Parnawi, A. (2019). Psikologi belajar. Yogyakarta: Deepublish.
  12. Susanto, A. (2013). Sistem informasi akuntansi. Bandung: Lingga Jaya.
  13. Sutabri, T. (2012). Analisis sistem informasi. Yogyakarta: Andi Offset.
  14. Syah, M. (2001). Psikologi pendidikan dengan pendekatan baru. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
  15. Wade, C., & Tarvis, C. (2007). Psikologi edisi kesembilan jilid satu. Jakarta: Erlangga.

Dampak Psikologis dari Cyber Sex

Banyak laporan penelitian yang menyebut bahwa internet adalah salah satu penyebab terjadinya perselingkuhan. Hal ini terjadi karena banyaknya layanan online sosial yang memudahkan orang berinteraksi dan melakukan banyak hal di internet. Dan salah satu hal yang bisa terjadi adalah melakukan seks atau yang biasa disebut cyber sex.

  • Pengertian Cyber Sex

Cyber sex adalah pertemuan seks virtual di mana dua atau lebih orang yang terhubung dari jarak jauh melalui jaringan internet dengan saling mengirim pesan seksual eksplisit yang menggambarkan pengalaman seksual. Fantasi seks ini dilakukan untuk merangsang perasaan dan fantasi seksual mereka sendiri.

Secara garis besar, kasus cyber sex dikelompokkan dalam 3 kategori. Yang pertama adalah online porn yang  meliputi gambar dan cerita erotis. Selanjutnya ada real time reaction yang bisa berupa chatting dengan topik seks ataupun webcam sex. Dan yang terakhir adalah multimedia software, bisa berupa game erotis ataupun video porno.

Dari sisi psikologis, berikut adalah dampak positif dan dampak negatif seks berinternet (Cyber Sex) :

  • Dampak Positif :
  1. Cyber sex memungkinkan pasangan hidup nyata yang terpisah secara fisik untuk tetap intim berhubungan secara seksual.

Melakukan cyber sex dengan pasangan yang sah masih bisa digolongkan sebagai salah satu alternatif seks yang memanfaatkan dunia maya sebagai alat. Karena terpisah jarak yang jauh dan keinginan melepas libido, maka sepasang suami istri bisa saja melakukan cyber sex untuk saling memuaskan satu sama lain.

  1. Karena cyber sex dapat memuaskan hasrat seksual tanpa risiko penyakit menular seksual atau kehamilan

Itu adalah cara yang secara fisik aman bagi anak remaja untuk bereksperimen dengan pikiran dan emosi seksual. Selain itu, orang dengan penyakit jangka panjang (termasuk HIV) dapat terlibat dalam cyber sex sebagai cara untuk mencapai kepuasan seksual secara aman tanpa membahayakan pasangannya.

  • Dampak Negatif :
  1. Menyebabkan Gangguan Seksual

Stimulasi seks terbagi dua yaitu fisik dan mental. Contoh stimulasi fisik adalah ciuman, rabaan, pelukan dan melakukan penetrasi seks. Sementara stimulasi mental adalah pikiran erotis yang membangkitkan gairah seks. Menonton film porno dan cyber sex tergolong stimulasi mental karena pelibatan pikiran yang dominan. Padahal seks yang normal adalah melakukannya dengan lawan jenis secara langsung.

Kata-kata erotis di layar komputer, foto atau video lawan chatting yang merangsang ditambah desahan yang membangkitkan gairah. Cyber sex ibaratnya melakukan seks tanpa penetrasi dan hanya melibatkan emosi. Dan ditulah letak bahaya cyber sex karena bisa menimbulkan gangguan seksual. Pria yang terlalu sering melakukan cyber sex bisa mengalami disfungsi ereksi. Karena telah terbiasa merangsang diri dengan khayalan maka sistem syaraf tidak merespon dengan baik ketika ada rangsangan yang nyata dari lawan jenis, akibatnya penis tidak bisa berdiri dengan keras.

  1. Kecanduan
    Salah satu bahaya cyber sex adalah kecanduan dan ini adalah salah satu gangguan jiwa dimana penderita mengalami ketergantungan dengan internet untuk melepaskan syahwatnya. Dan seperti halnya jenis kecanduan lain, kecanduan cyber sex tentu akan berdampak buruk bagi diri penderita dan kehidupan sosialnya.

Salah satu ciri utama kecanduan cyber sex adalah pelaku tidak lagi atau tidak bergairah melakukan hubungan seks secara nyata dan hanya bisa terpuaskan jika melakukannya di internet. Kondisi ini adalah masalah psikoseksual yang biasanya terjadi akibat trauma seks di masa lalu.

  1. Melemahkan Kerja Otak

Menurut penelitian, keseringan chat sex dan melakukan hal-hal berbau porno bisa melemahkan fungsi kontrol pada otak, sehingga orang tersebut  tidak dapat mengontrol perilakunya. Kecanduan cyber sex amat berbahaya, karena ingatan tentang porno yang terekam dari chat akan tetap diingat dalam otak selamanya.

  1. Melumpuhkan Ingatan

Dampak lain dari perilaku menyimpang tersebut adalah dapat melemahkan memori kerja atau ingatan seseorang. Padahal memori itulah yang bertanggung jawab untuk memproses dan memelihara informasi ingatan jangka pendek.  Artinya, memori kerja adalah memori yang sebagian besar digunakan dalam kehidupan sehari-hari.

 

SUMBER :

https://en.wikipedia.org/wiki/Cybersex

http://doktersehat.com/bahaya-cyber-sex-yang-perlu-anda-ketahui/

https://www.popular-world.com/gold/desire/inilah-5-dampak-buruk-cybersex-yang-wajib-diketahui–74870/

Apa itu Cyber Cheating dan Cyber Flirting?

  1. Cyber-Cheating, yaitu kecurangan yang terjadi di dunia maya/internet.
    Menggunakan internet untuk menipu dengan tidak setia kepada pasangan/teman dan membohonginya.
    Cyber-cheating biasanya memunculkan perselingkuhan yang dapat terjadi di internet ketika seseorang yang telah memiliki pasangan memiliki hubungan yang dekat pula dengan orang lain.
    Misalkan seorang istri memiliki akun jejaring sosial dimana mantannya masih terdaftar dalam daftar temannya dan selama ini dia sering chatting dengan kata-kata mesra dan menggoda dengan mantannya itu, maka hal tersebut dapat dikatakan dengan cyber-cheating.
  2. Cyber-Flirting, yaitu menggoda/merayu di dunia maya/internet.
    Cyber-Flirting yaitu menggoda atau provokatif dengan melalui teks, situs jejaring sosial, game online, dll., dan berusaha menghindari berbicara dengan secara langsung.
    Cyber-flirting adalah suatu hal yang umum yang terjadi di jejaring sosial bahkan game. Namun dalam terjadinya banyak terjadi ketidak-amanan yang membuatnya dikategorikan sebagai perilaku negatif.
    Contohnya adalah dalam cyber-flirting orang bisa menggunakan bahasa yang tidak pantas, ditambah lagi jika dalam terjadinya terdapat kepalsuan identitas maka semakin menjadi perilaku negatif cyber-flirting tersebut.

Keduanya termasuk dalam perilaku negatif hubungan interpersonal online reaction.

SUMBER 

https://www.urbandictionary.com/define.php?term=cyber%20cheating

https://www.urbandictionary.com/define.php?term=Cyber%20Flirt

Tes Psikologi Online

  • Definisi Tes Psikologi

Tes psikologi dilakukan untuk memahami kondisi mental dan perilaku seseorang berdasarkan kaidah-kaidah psikologi. Secara umum, asesmen psikologi bertujuan untuk memetakan kondisi elemen-elemen utama kondisi psikologi manusia, seperti perilaku, kesehatan mental, kepribadian, IQ, kecakapan, penyelesaian masalah dan kemampuan beradaptasi atas situasi tertentu. Tes dilakukan untuk beragam kebutuhan yang spesifik. Jenis tes yang diterapkan pada klien ditentukan oleh persoalan yang melekat pada klien atau tujuan dari pelaksanaan tes itu sendiri.

Secara umum tes psikologi adalah metode dan serangkaian instrumen yang dijalankan untuk mengukur aspek-aspek yang tidak teramati secara langsung pada manusia yang menyangkut aspek psikologi. Tes psikologi menggunakan konstruksi tertentu untuk mengukur kondisi tertentu pada manusia.

  • Definisi Tes Psikologi Online

Penggunaan internet secara besar-besaran berimbas pada inovasi dibidang psikologi, salah satunya tes online (Online Assesment). Secara gamblang tes psikologi online ini serupa dengan tes psikologi konvensional hanya saja dibedakan oleh sarananya. ecara gamblang tes psikologi online ini serupa dengan tes psikologi konvensional hanya saja dibedakan oleh sarananya.

Tes Psikologi secara online tentunya praktis dan efisien sehingga itulah yang menjadi keunggulan dari bentuk tes ini, namun ada saja kelemahan atau bisa kita bilang hal-hal yang meragukan dari bentuk tes ini antara lain keakuratan tingkat Realibilitas dan Validitasnya, administrasi, kerahasiaan, kejujuran testee dalam mengisi tes, kendala biasa yang digunakan (mengingat internet dapat diakses secara gobal) dan masih banyak lagi hal yang sedang diperdebatkan mengenai keefektifan tes secara online.

  • Prinsip Tes Psikologi

Beberapa standar belaku pada tes psikologi. Shultz & Schultz (2010) menekankan adanya prinsip yang berlaku pada alat ukur psikologi untuk menghindari kesalahan dalam pengukuran. Kesalahan dalam pengukuran dalam ilmu psikologi dapat berakibat fatal bagi klien yang ditangani. Beberapa Prinsip atau watak yang digunakan dalam alat ukur tes psikologi antara lain:

  1.  Standardisasi alat ukur psikologi

Konsitensi dalam penerapan alat ukur perlu diberlakukan selama proses asesmen dan tes psikologi dijalankan. Konsistensi juga mencakup standadisasi pada pembelakuan prosedur, langkah dan mekanisme pelaksanaan hingga penilaian. Tes psikologi perlu dijalankan pada lingkup yang sama jika dilakukan secara masal (umum) untuk menghasilkan gambaran yang setara.

  1.  Objektivitas dalam Penilaian

Objektivitas pada penilaian tes psikologi bermakna menjauhkan tes psikologi dari pemaknaan-pemaknaan yang bersifat personal. Nilai-nilai yang bersifat bias perlu dhilangkan pada fase penilaian (scoring). Dengan prinsip ini, penilaian dilakukan dengan cara sama untuk memperoleh hasil yang  objektif untuk setiap klien.

  1. Adanya Norma Pengujian

Hasil umum dari pengujian pada kelompok besar yang juga mencakup hasil pengujian pada individu dapat diperbandingkan dengan hasil pada kelompok lain. Proses pembandingan ini perlu mempertimbangkan kesamaan karakteristik pada masing-masing kelompok yang akan diperbandingkan.

  1.  Reliabilitas

Reliabilitas bermakna keajegan. Alat ukur perlu menunjukkan performa yang konsisten setelah dibelakukan atau digunakan pada beberapa tes yang dilakukan menggunakan alat ukur yang sama.

  1. Validitas

Validitas bermakna kesesuaian penggunaan alat ukur dengan tujuan pengukuran itu sendiri. Mengingat satu alat ukur memiliki tujuan dan lingkup pengukuran, maka alat ukur harus dapat digunakan pada konteks yang benar.

  • Lebih memilih mana, tes psikologi yang berbentuk paper (kertas) atau tes psikologi secara online?

Saya lebih memilih tes psikologi yang berbentuk paper (kertas) dikarenakan walau dalam skoring dan pengerjaannya relatif lebih lama dibandingkan dengan tes psikologi online, namun sudah jelas bahwa tes psikologi yang berbentuk paper (kertas) lebih valid dan sesuai dengan prinsip-prinsip tes psikologi yang telah disebutkan diatas itu.

Berikut adalah contoh test psikologi online yang saya lakukan di situs http://disc.landa.co.id

  1. Halaman depan situsScreenshot (29)
  2. Contoh pernyataan pada tes psikologi onlinescreenshot-25.png
  3. Hasil Tes yang sudah saya lakukan.

screenshot-28-e1527751927858.png

SUMBER:

http://ensiklo.com/2015/02/12/tes-psikologi-pengertian-macam-dan-pemanfaatannya/

http://yunitrisna22.blogspot.com/2013/12/tes-psikologi-online-makalah.html

Apa itu Internet Addiction Disorder?

  • Definisi Internet Addiction Disorder (Kecanduan Internet)

Internet Addiction Disorder (IAD), juga dikenal sebagai penggunaan internet yang bermasalah atau penggunaan internet patologis, mengacu pada penggunaan internet yang berlebihan yang mengganggu kehidupan sehari-hari. IAD adalah gangguan psikologis yang menyebabkan orang untuk menghabiskan begitu banyak waktu pada komputer yang mempengaruhi kesehatan, pekerjaan, keuangan, atau hubungan mereka.

  • Gejala Internet Addiction Disorder (Kecanduan Internet)

Kimberley Young menyebutkan beberapa gejala utama kecanduan berinternet, tanda-tanda orang kecanduan internet, yaitu:

  1. Pikiran pecandu internet terus-menerus tertuju pada aktivitas berinternet dan sulit untuk dibelokkan ke arah lain.
  2. Adanya kecenderungan penggunaan waktu berinternet yang terus bertambah demi meraih tingkat kepuasan yang sama dengan yang pernah dirasakan sebelumnya.
  3. Yang bersangkutan secara berulang gagal untuk mengontrol atau menghentikan penggunaan internet.
  4. Adanya perasaan tidak nyaman, murung, atau cepat tersinggung ketika yang bersangkutan berusaha menghentikan penggunaan internet.
  5. Adanya kecenderungan untuk tetap on-line melebihi dari waktu yang ditargetkan.
  6. Penggunaan internet itu telah membawa risiko hilangnya relasi yang berarti, pekerjaan, kesempatan studi, dan karier.
  7. Penggunaan internet menyebabkan pengguna membohongi keluarga, terapis dan orang lain untuk menyembunyikan keterlibatannya yang berlebihan dengan internet.
  8. Internet digunakan untuk melarikan diri dari masalah atau untuk meredakan perasaan-perasaan negatif seperti rasa bersalah, kecemasan, depresi, dan sebagainya

  • Jenis-jenis Internet Addiction Disorder

Kimberley Young menggambarkan lima jenis IAD berbeda, yaitu:

  1. Cyber sexual addiction/Kecanduan cyber sex (penggunaan situs internet porno atau ruang obrolan orang dewasa, adult fantasy role-play)
  2. Cyber relationship addiction/Kecanduan hubungan cyber (kecanduan jejaring sosial yang berlebihan menggunakan hubungan online untuk menggantikan teman dan keluarga yang nyata)
  3. Net compulsions/Jaringan kompulsif (Perjudian online, permainan saham online atau perdagangan online yang seringkali membawa konsekuensi masalah finansial atau masalah pekerjaan)
  4. Information overloads/Informasi yang berlebihan (berselancar online atau pencarian basis data secara kompulsif)
  5. Computer addiction/Kecanduan komputer (memainkan game komputer secara obsesif, seperti Solitaire atau Minesweeper, atau pemrograman komputer secara obsesif.)

Yang paling umum dari kecanduan Internet ini adalah cyber sex, judi online dan kecanduan hubungan cyber.

  • Contoh fenomena/berita tentang Internet Addiction Disorder

KOMPAS.com – Perbuatan seorang pemuda 19 tahun asal kota Nantong, Tiongkok ini benar-benar membuat geleng kepala. Dia memotong hingga putus tangan kirinya sendiri sebatas pergelangan dengan memakai sebuah pisau dapur

Si pemuda yang namanya tak disebutkan itu, menurut laporan The Telegraph yang dikutip Kompas Tekno, Minggu (8/2/2015), rupanya berpikiran ingin menyembuhkan diri sendiri dari “penyakit” kecanduan internet. Sayang, cara yang ditempuhnya terbilang ekstrim dan membuat miris.

“Kami tak bisa menerima apa yang telah terjadi. Ini benar-benar tak disangka. Dia seorang anak yang pintar,” ujar ibu sang pemuda kepada wartawan.

Si ibu mengatakan bahwa pada Rabu (4/2/2015) lalu anaknya itu menghilang dari kamar rumah sekitar pukul 11 malam. Di tempat tidurnya hanya terdapat lembaran kertas berisi tulisan pemberitahuan.

“Ibu, saya pergi ke rumah sakit sebentar,” bunyi tulisan tersebut. “Jangan khawatir karena saya akan pulang ke rumah malam ini.”

Rupanya sang pemuda yang hanya diidentifikasi dengan nama “Little Wang” itu diam-diam ke luar rumah dan memotong tangannya di sebuah kursi taman. Dia kemudian memanggil taksi untuk pergi ke rumah sakit, sementara potongan tangannya ditinggalkan tergeletak begitu saja di tanah.

Tim dokter di sebuah rumah sakit universitas setempat berhasil menyambungkan potongan tangan sang pemuda setelah ditemukan dan dibawa oleh polisi, tetapi belum diketahui apakah si pemuda nekat bakal kembali bisa menggunakan tangannya seperti dulu atau tidak.

 “Little Wang” adalah satu dari sekitar 24 juta “web junkie” atau pecandu internet yang diperkirakan berada di Tiongkok, negeri dengan jumlah populasi online sebesar 649 juta.

Pecandu internet adalah mereka yang demikian sering menghabiskan waktu di dunia maya sehingga seringkali melewatkan sekolah, atau bahkan jarang meninggalkan kamar tidur karena sibuk beraktivitas di ranah internet.

Di Tiongkok pun belakangan banyak bermunculan klinik dan pusat pelatihan ala militer untuk mengakomodir para pecandu internet yang ingin rehabilitasi.

Psikolog Tao Ran yang mengelola salah satu pusat rehabilitasi web junkie di Beijing mengatakan bahwa sekitar 14 persen pemuda di Tiongkok kini diperkirakan mengalami kecanduan internet.

“Mereka (pecandu internet) hanya melakukan dua hal, yakni tidur dan bermain (online),” kata Tao.

Fenomena ini pun telah menarik perhatian kaum politisi di  Tiongkok dan wilayah Asia Timur. Bulan lalu, misalnya, pemerintah Taiwan mengesahkan peraturan di mana orang tua bisa didenda jika membiarkan anaknya menggunakan “perangkat elektronik” dalam waktu lama.

Di Jepang, pusat-pusat “puasa internet” didirikan menyusul laporan yang menyebutkan bahwa ratusan ribu remaja di negeri sakura telah “menelantarkan” dunia nyata dan lebih giat berinternet. Di Tiongkok sendiri, di kota Shanghai, para orang tua diharuskan mencegah anaknya “merokok, minum alkohol, berkeliaran di jalan, serta terlalu asyik dengan mainan online dan online”.

Tao mengatakan bahwa langkah-langkah yang lebih tegas perlu dilakukan dalam menyikapi para pecandu internet. Anak-anak di bawah 7 tahun, menurut dia, harus dijauhkan dari internet dan game online. Remaja di bawah 18 tahun pun disebutnya perlu dilarang masuk ke kafe internet.

  • Mengatasi Kecanduan Internet

Kecanduan internet dapat terjadi karena seseorang mengalami stres, oleh karenanya hal ini juga perlu diatasi dengan memberikan obat antidepresan. Selain memberikan obat antidepresan, penderita juga dapat diberikan latihan fisik untuk mengurangi kadar dopamin. Selain itu, terapi perilaku kognitif dapat membantu dengan beberapa gejala kecanduan internet, seperti depresi dan kecemasan. Terapi ini bertujuan untuk mengubah perilaku kecanduan internet yang dialami

SUMBER :

https://tekno.kompas.com/read/2015/02/08/20450067/Kecanduan.Internet.Remaja.Potong.Tangan.hingga.Putus. 

http://www.referensisehat.com/2016/04/kecanduan-internet-gejala-penyebab-dan.html

https://psychscenehub.com/psychinsights/can-internet-addiction-lead-to-psychosis-a-case-report/

Perilaku Prososial dan Contohnya

1. Apa itu perilaku prososial?

Robert A. Baron dan Donn Byrne (2004) mengungkapkan bahwa perilaku prososial dapat didefinisikan sebagai perilaku yang memiliki konsekuensi positif orang lain. Myers mengatakan bahwa perilaku adalah kepedulian dan pertolongan pada orang lain yang dilakukan secara sukarela dan tidak mengharapkan imbalan apapun.Perilaku prososial biasanya muncul saat seorang manusia menyadari bahwa ada pihak lain yang mengalami kesulitan. Sebagai mahluk sosial, manusia dididik untuk mematuhi serangkaian peraturan dan norma dalam menjalani hidupnya. Salah satu hal yang selalu diajarkan pada kebanyakan orang sejak kecil adalah kebiasaan untuk menolong orang lain.

Kebiasaan ini akan tertanam di dalam diri manusia dan akan muncul secara otomatis saat melihat sesama yang membutuhkan. Selain itu, manusia membutuhkan kemampuan saling bekerjasama dan saling membantu saat dihadapkan pada satu masalah.

Berdasarkan ketiga definisi tersebut, menurut saya definisi perilaku prososial adalah tindakan yang dilakukan untuk menolong orang lain tanpa mempedulikan motif penolong dan itu dilakukan tanpa pamrih dengan mengesampingkan kepentingan diri sendiri. Perilaku prososial dapat terjadi dengan bercirikan sikap simpati dan empati, dan kerjasama atau gotong royong.

Terdapat beberapa bentuk-bentuk perilaku prososial. Mussen dkk (1979) mengungkapkan bahwa perilaku prososial meliputi:

• Menolong, yaitu membantu orang lain dengan cara meringankan beban fisik atau psikologis orang tersebut.

• Berbagi rasa, yaitu kesedian untuk ikut merasakan apa yang dirasakan orang lain.

• Kerjasama, yaitu melakukan pekerjaan atau kegiatan secara bersama-sama berdasarkan kesepakatan untuk mencapai tujuan bersama pula.

• Menyumbang, yaitu berlaku murah hati kepada orang lain.

• Memperhatikan kesejahterahan orang lain.

2. Dalam dunia internet, apakah perilaku prososial dapat terjadi?

Ya, perilaku prososial dapat terjadi dalam dunia internet.

Perilaku prososial biasanya muncul saat seorang manusia menyadari bahwa ada pihak lain yang mengalami kesulitan. Sebagai mahluk sosial, manusia dididik untuk mematuhi serangkaian peraturan dan norma dalam menjalani hidupnya. Salah satu hal yang selalu diajarkan pada kebanyakan orang sejak kecil adalah kebiasaan untuk menolong orang lain.

Kebiasaan ini akan tertanam di dalam diri manusia dan akan muncul secara otomatis saat melihat sesama yang membutuhkan. Selain itu, manusia membutuhkan kemampuan saling bekerjasama dan saling membantu saat dihadapkan pada satu masalah.

Saat ini aktivitas menolong bisa dilakukan dalam berbagai bentuk. Contoh fenomena prososial di internet yaitu ketika kita melihat postingan orang yang dibagikan di internet, postingan tersebut menjelaskan bahwa ada korban bencana alam yang memerlukan uluran tangan atau bantuan kita. Pada postingan tersebut yang telah dibagikan kepada publik, hati kita tergerak untuk membantu dengan ikut berdonasi seikhlasnya. Beberapa orang juga yang telah melihat dan memahami postingan tersebut ada yang langsung terjun ke lapangan sebagai relawan, untuk sekadar membersihkan sampah dan puing tanpa dibayar. Adapun setelah melihat postingan tersebut kita merasa tidak perlu ikut menolong dikarenakan toh sudah banyak orang yang menolong, jadi tidak perlu ikut menolong, dan ada juga yang berpikiran ketika membaca postingan tersebut ia berdoa untuk korban bencana alam tersebut tetapi tidak membantu berupa donasi atau relawan. Kesimpulannya, perilaku prososial mencakup kategori yang lebih luas, meliputi segala bentuk tindakan yang dilakukan atau direncanakan untuk menolong orang lain, tanpa memperdulikan motif-motif si penolong. Perilaku prososial berkisar dari tindakan yang tanpa pamrih atau tidak mementingkan din sendiri sampai tindakan menolong yang sepenuhnya dimotivasi oleh diri sendiri.

SUMBER :

http://www.psychologymania.com/2013/01/pengertian-perilaku-prososial.html?m=1

http://etheses.uin-malang.ac.id/2256/4/07410122_Bab_2.pdf