Aspek Psikologis Seseorang dari Penggunaan Internet dan Alasan Penggunaan Nama Samaran

  1. Aspek Psikologis Seseorang dari Penggunaan Internet

Sistem komunikasi dengan jaringan internet memungkinkan orang dari semua belahan dunia untuk saling berkomunikasi secara real-time dengan mudah dan cepat. Segala macam informasi dapat dengan mudah dikirim serta diterima, tanpa mempedulikan jarak jauh atau dekat. Di era modern ini dimana penggunaan internet telah menjadi bagian dari kehidupan orang-orang dalam kesehariannya, internet berkembang menjadi teknologi yang mampu menjadi media penyebaran informasi, dan internet pun telah mampu menciptakan sebuah dunia baru yang tertanam pada realitas kehidupan masyarakat. Dunia baru tersebut itulah yang sering disebut dengan “Dunia Maya”. Istilah dunia maya merujuk pada kemampuan internet yang memungkinkan terciptanya ruang gerak sosial atau dunia baru bagi kehidupan masyakarat, hingga kemudian, baik disadari atau tidak, manusia masa kini telah hidup dan berinteraksi dalam dua entitas sekaligus yaitu bisa disebut juga Dunia Nyata dan Dunia Maya.

Aspek psikologis dapat dipandang sebagai prediktor bagi perilaku penggunaan Internet, namun dapat pula sebaliknya pemanfaatan internet ini menjadi salah satu yang memberi warna kepada kehidupan manusia dan memperkaya modal sosial, baik sebagai individu, ketika berada di dalam kelompok, ataupun masyarakat. ‘Internet bak pisau bermata dua’, di beberapa bidang, kajian psikologi dapat menjadikan internet ini sebagai media yang memperbaiki dinamika hubungan antara manusia di dalam memenuhi kebutuhan hidupnya, namun internet dapat pula sebagai sumber atau setidaknya pemicu masalah kehidupan bahkan permusuhan sosial. dampak lain yang dapat muncul adalah bisa terjadi kurangnya kontak sosial di dunia nyata karena seseorang lebih senang untuk berinteraksi melalui dunia maya.

 

2. Alasan Seseorang Tidak Menggunakan Data Pribadi di Internet

Setiap manusia pasti memiliki identitas atau profil masing-masing dan ingin dipublikasikan di khalayak ramai. Di zaman globalisasi ini, media sosial dimanfaatkan sebagai ajang pengungkapan diri melalui konten atau posting. Bagi Erving Goffman, bahwa setiap individu pada kenyataannya melakukan konstruksi atas diri mereka dengan cara menampilkan diri (self performance). Sedangkan, Wood dan Smith menyatakan bahwa identitas yang berlaku di internet merupakan konstruksi komplek bagi diri, dan secara sosial terkait bagaimana beranggapan terhadap diri sendiri, dan bagaimana pula mengharapkan diri dan stigma orang lain terhadap diri sendiri dan bagaimana orang lain itu mempersepsikannya.

Di dalam media sosial pada tingkat individu telah menciptakan perubahan mendasar dalam pemahaman kita tentang diri dan identitas. Kekacauan identitas akan mempengaruhi persepsi, pikiran, personalitas, dan gaya hidup setiap orang. Bila setiap orang bisa menjadi siapapun, sama artinya semua orang bisa menjadi beberapa orang yang berbeda pada saat yang sama. Kenyataan membuktikan bahwa identitas individu di media sosial yaitu individu yang memiliki dua kemungkinan, yakni bisa jadi sama atau bisa jadi berbeda identitas secara offline. Tidak hanya itu, individu tidak hanya memiliki satu identitas semata, tetapi bisa memiliki identitas yang beragam dengan karakteristik yang berbeda-beda pula di media sosial. Oleh karena itu, fenomena sosialisasi diri di dunia sosial harus ditanggapi dengan bijaksana sesuai dengan kaidah dan norma yang telah disepakati bersama. Hasil riset menunjukan bahwa privasi memiliki korelasi negatif dengan keterbukaan diri. hal ini berari semakin baik privasi yang dimiliki seseorang, maka semakin baik ia mampu mengatur sejauh mana ia dapat membuka dirinya ketika berinteraksi baik di dunia nyata maupun di dunia maya (Lee, 2010).

Salah satu alasan mengapa individu memilih identitas mereka yang berbeda di internet (dengan menggunakan nama samaran) misalnya pada saat bermain game online atau di sosial media itu karena identitas mereka di dunia nyata tidaklah bisa mendapatkan tempat dalam kehidupan sosial mereka. Ini menjadi kecenderungan sebagai bentuk pelarian diri dari realita yang ada. Bahwa identitas virtual sebagai bentuk representasi diri dan wujud pencitraan dan potret dunia media sosial dipandang sebagai sebuah patologi eksistensial masyarakat masa kini, yang di dalamnya citra dijadikan sebagai sebuah jalan pelarian dari penderitaan keputusan, dan ketidakberdayaan manusia. Pada umumnya, alasan seseorang menggunakan data palsu atau samaran pada saat bermain game online ataupun di sosial media karena agar data pribadi yang sesungguhnya tidak terpublikasi karena itu termasuk privasi baginya yang memuat data pribadi dan agar identitas asli kita tidak bisa ditelusuri lebih lanjut atau disalahgunakan oleh pihak yang tidak bertanggungjawab.

 

SUMBER :

Nasrullah, Teori dan Riset Media Siber (Cybermedia), (Jakarta: Kencana Media Group, 2014), h.142

Rulli Nasrullah, Teori dan Riset Media Siber, h. 148