Pengertian Tanggung Jawab dan Jenis-jenisnya

 

  1. PENGERTIAN TANGGUNG JAWAB

        Tanggung  jawab  menurut  kamus umum Bahasa Indonesia adalah keadaan wajib menanggung segala sesuatunya. Sehingga bertanggung jawab menurut kamus umum bahasa Indonesia adalah berkewajiban menanggung,memikul jawab, menanggung segala sesuatunya, atau memberikan jawab dan menanggung akibatnya. Tanggung jawab adalah kesadaran manusia akan tingkah laku atau perbuatannya  yang disengaja maupun yang tidak disengaja. Tangung  jawab juga  berarti berbuat  sebagai perwujudan kesadaran akan kewajibannya.

  1. JENIS-JENIS TANGGUNG JAWAB

Tanggung jawab itu dapat dibedakan menurut keadaan manusia atau hubungan yang dibuatnya. Atas dasar ini, lalu dikenal beberapa jenis tanggung jawab, yaitu :

1. Tanggung Jawab Terhadap Diri Sendiri

Tanggung jawab terhadap diri sendiri menuntut kesadaran setiapp orang untuk memenuhi kewajibannya sendiri dalam mengembangkan kepribadian sebagai manusia pribadi. Dengan demikian bisa memecahkan masalah-masalah kemanusian mengenai dirinya sendiri.

Contohnya: Rudi membaca sambil berjalan. Meskipun sebentar-bentar ia melihat ke jalan tetap juga ia lengah dan terperosok ke sebuah lubang. Ia harus beristirahat diruma beberapa hari. Konsekuensi tinggal dirumah beberapa hari merupakan tanggung jawab ia sendiri akan kelengahannya.

2.  Tanggung Jawab kepada Keluarga

Keluarga merupakan masyarakat kecil. Keluarga terdiri dari suami-istri, ayah-ibu dan anak-anak, dan juga orang lain yang menjadi anggota keluarga. Tiap anggota keluarga wajib bertanggung jawab kepada keluarganya. Tanggung jawab ini menyangkut nama baik keluarga. Tetapi tanggung jawab juga merupakan kesejahteraan, keselamatan, pendidikan, dan kehidupan.

Contohnya: Dalam sebuah keluarga biasanya memiliki peraturan-peraturan sendiri yang bersifat mendidik, suatu hal peraturan tersebut dilanggar oleh salah satu anggota keluarga. Sebagai kepala keluarga (Ayah) berhak menegur atau bahkan memberi hukuman. Hukuman tersebut merupakan tanggung jawab terhadap perbuatannya.

3. Tanggung Jawab terhadap Masyarakat

Pada hakekatnya manusia tidak bisa hidup tanpa bantuan manusia lain, sesuai dengan kedudukannya sebagai makhluk sosial. Karena membutuhkan manusia lain maka ia harus berkomunikasi denhan manusia lain tersebut. Sehingga dengan demikian manusia di sini merupakan anggota masyarakat yang tentunya mempunyai tanggung jawab tersebut. Wajarlah apabila segala tingkah laku dan perbuatannya harus dipertanggung jawabkan kepada masyarakat.

Contohnya: Safi’i terlalu congkak dan sombong, ia mengejek dan menghina orang lain yang mungkin lebih sederhana dari pada dia. Karena ia termasuk dalam orang yang keya dikampungnya. Ia harus bertanggung jawab atas kelakuannya tersebut. Sebagai konsekuensi dari kelakuannya tersebut, Safi’i dijauhi oleh masyarakat sekitar.

4. Tanggung Jawab Terhadap Bangsa dan Negara

Suatu kenyataan lagi, bahwa setiiap manusia, tiap individu adalah warga negara suatu negara. Dalam berfikir, berbuat, bertindak, bertinggah laku manusia terikat oleh norma-norma atau ukuran-ukuran yang dibuat oleh negara. Manusia tidak dapat berbuat semaunya sendiri. Bila perbuatan manusia itu salah, maka ia harus bertanggung jawab kepada negara.

Contohnya: Dalam novel “Jalan Tak Ada Ujung” karya Muchtar Lubis, Guru Isa yang terkenal sebagai guru yang baik, terpaksa mencuri barang-barang milik sekolah demi rumah tangganya. Perbuatan guru Isa ini harus pula dipertanggungjawabkan kepada pemerintah, kali perbuatan itu diketahui ia harus berurusan dengan pihak kepolisian dan pengadilan.

5. Tanggung Jawab Terhadap Allah Swt

Allah SWT menciptakan manusia di bumi ini bukanlah tanpa tanggung jawab, melainkan untuk mengisi kehidupannya, manusia mempunyai tanggung jawab langsung terhadap perintah Allah SWT. Sehingga tindakan atau perbuatan manusia tidak bisa lepas dari pengawasan Allah SWT yang dituangkan dalam kitab suci AlQur’an melalui agama islam. Pelanggaran dari hukuman-hukuman tersebut akan segera diperingati oleh Allah dan jika dengan peringatan yang keraspun manusia masih juga tidak menghiraukannya maka Allah akan melakukan kutukan.

Contohnya: Seorang muslim yang taat kepada agamanya maka ia bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri dan kepada Allah. Karena ia menghindari hukuman yang akan ia terima jika tidak taat pada ajaran agama. kedua yang harus dilakukan seorang muslim kepada Allah SWT, adalah memiliki rasa tanggung jawab atas amanah yang diberikan padanya. Karena pada hakekatnya,kehidupan inipun merupakan amanah dari Allah SWT. Oleh karenanya, seorang mukmin senantiasa meyakini, apapun yang Allah berikan padanya, maka itu merupakan amanah yang kelak akan dimintai pertanggung jawaban dari Allah.

     3. Jika saya diberikan tanggungjawab sebagai ketua kelas saya akan melakukan tugas-tugas yang diberikan dengan sebaik-baiknya dan menyampaikannya kepada teman-teman, tegas dan bertanggung jawab dalam menjalankan tugas serta menjaga amanah yang diberikan

Pandangan Hidup dan Cita-cita

Pandangan Hidup

Pandangan hidup adalah pendapat atau pertimbangan yang dijadikan pegangan, pedoman, arahan, petunjuk hidup di dunia. Definisi pandangan hidup menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah konsep yang dimiliki seseorang atau golongan dalam masyarakat yang bermaksud menanggapi dan menerangkan segala masalah di dunia ini. Definisi lain dari pandangan hidup adalah falsafah atau prinsip hidup. Dapat dikatakan bahwa pandangan hidup adalah arah atau tujuan hidup seseorang yang ingin dicapai selama hidupnya. Pada hakikatnya cita-cita pastilah suatu keinginan untuk bertansformasi atau hijrah menjadi lebih baik sesuai keinginan kita. Jadi sesungguhnya pandangan hidup itu adalah pedoman atau cita-cita bagi kita, dapat dibayangkan bagaimana seseorang tanpa pandangan hidup pasti hidupnya akan berjalan tanpa tujuan dan hanya mengikuti arus.

Pandangan hidup atau prinsip hidup saya adalah tetap berusaha melakukan yang terbaik di setiap kesempatan, disini yang saya maksud bukan ingin tampil perfeksionis (sempurna) tetapi  melakukan sesuatu hal dengan maksimal tidak setengah-setengah. Jangan takut untuk mencoba, tetap berfikir positif bahwa kamu bisa melakukannya sampai di titik akhir. Lalu bagi saya janganlah kita pernah menunda perkerjaan, menunda perkerjaan berarti menunda keberhasilan kita. Ada kutipan yang menarik yang selalu saya ingat yaitu “You’ll never change your life until you change something you do daily, the secret of your success is found on your daily routine” John C. Macwell (artinya: “Anda tidak akan pernah mengubah hidup Anda sampai Anda mengubah sesuatu yang Anda lakukan setiap hari, rahasia kesuksesan Anda ditemukan di rutinitas harian Anda”)

Apabila seseorang tidak memiliki pandangan hidup dalam dirinya maka dampak negatifnya adalah dia tidak mempunyai pegangan, pedoman, arahan, petunjuk hidup dalam menjalani kehidupannya. Sehingga dia tidak mengerti hakikat dia hidup di dunia ini dan juga masa depannya. Untuk menghindari dampak negative tersebut hendaknya kita memegang teguh pandangan hidup yang diyakini, seseorang tidak akan bertindak sesuka hatinya. Ia tidak akan gegabah bila menghadapi masalah, hambatan, tantangan dan gangguan, serta kesulitan yang dihadapinya.

Cita-cita

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), cita-cita adalah keinginan, harapan, tujuan yang selalu ada dalam pikiran. Yang merupakan apa yang mau diperoleh seseorang pada masa mendatang. Dapatkah seseorang memcapai apa yang dicita-citakan? hal itu tergantung dari tiga factor. Pertama ialah faktor manusia yang mau mencapai cita-cita ditentukan oleh kualitas manusianya itu sendiri. Yang kedua ialah faktor kondisi, yang mempengaruhi tercapainya cita-cita, pada umumnya dapat disebut yang menguntungkan dan yang menghambat. Faktor yang terakhir merupakan faktor tingginya cita-cita dalam mencapai cita-cita itu. Cita-cita utama saya sekarang adalah selalu membahagiakan dan membuat bangga kedua orangtua saya dan bisa membahagiakan orang lain yang ada di sekitar saya dan yang pasti adalah membuat diri saya bahagia juga. Niscaya impian atau cita-cita saya itu akan terwujud seiring berjalannya waktu dengan diiringi doa dan ikhtiar (usaha). aamiin~

Mengejar cita-cita harus diiringi dengan usaha dan perjuangan. Bagaimana jika menghadapi kendala dalam meraih cita-cita?  Jika kita menghadapi kendala dalam meraih cita-cita, janganlah langsung menyerah begitu saja, tetapi tetaplah semangat dan terus berusaha dan berdoa. Ingat, Tuhan itu Maha Adil.
Setidaknya beberapa faktor penghambat (kendala) dalam meraih cita-cita antara lain: pergaulan yang salah, penumbuhan karakter dan sikap diri yang tidak benar, passion dan gairah yang tidak sesuai, masalah ekonomi dan yang paling penting adalah cara berpikir. Saya akan bahas satu persatu cara mengatasi hal tersebut seperti berikut ini.
Pergaulan menjadi suatu tempat yang harus anda jaga baik-baik, ada 2 penjagaan yang harus kita lakukan yakni kondisi pertemanan dan lingkup pertemanan, kondisi pertemanan berhubungan erat dengan bagaimana kita menjalin hubungan baik dengan teman/sahabat, dan terakhir lingkup pertemanan adalah bagaimana anda berteman dengan orang-orang dalam suatu lingkungan yang kondusif, mendukung dan mengarahkan pada hal-hal positif.

Tentunya sebuah masa depan gemilang dan hidup dengan cita-cita yang anda impikan dipengaruhi dari sikap dan karakter. kita harus open mind dengan setiap perilaku dan tindakan kita, jangan sampai apa yang kita lakukan berakibat pada seseorang dan seseorang tersebut menaruh respect terhadap kita, syukur-syukur jika respect tersebut adalah positif namun, jika respectnya negatif? oleh sebab itu penting untuk memperhatikan tindakan kita selama ini, instrospeksi diri dan jaga baik-baik sikap kita.

Passion menjadi penentu utama cita-cita yang nantinya akan anda wujudkan, mengapa harus dengan passion? karena dengan passion sebagian besar pekerjaan kita akan dilakukan dengan baik tanpa kendala, hal ini disebabkan karena kita bergairah mengerjakan tugas yang dibebankan kepada kita dan ini sangat mempengaruhi pekerjaan/profesi/cita-cita kita, akan sangat muda mengerjakan suatu tugas yang sesuai dengan gairah kita ketimbang mengerjakan tugas baru yang dalam mengerjakannya kita tidak memiliki gairah sedikitpun.

Masalah ekonomi menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari suatu cita-cita atau harapan untuk ‘bekerja’. namun, jangan beranggapan bahwa anda tidak bisa meraih impian/cita-cita anda untuk bekerja karena masalah ekonomi, sekali lagi masalah ekonomi hanyalah bagian dari cara untuk membangun cita-cita bukan menjadi penentu terwujudnya cita-cita kita.

anda hanya sebatas yang anda pikirkan, begitupula impian dan cita-cita kita. Sudah saatnya anda merubah batasan pikiran kita dengan berpikir bahwa kita pantas untuk masa depan yang lebih baik, masa depan yang besar yang siap bagi kehidupan yang bermanfaat, maka setelah itu perbaiki kualitas diri, pergaulan, ketahui apa yang kita mau, apa yang kita bisa dan apa kemampuan kita dan jadilah orang yang memperjuangkan cita-cita kita.

Sumber:

http://tinnajer.blogspot.co.id/2013/02/faktor-penghambat-cita-cita.html

Pengertian Keadilan dan Perwujudan Keadilan Sosial

Pengertian Keadilan

Istilah keadilan (iustitia) berasal dari kata “adil” yang berarti: tidak berat sebelah, tidak memihak, berpihak kepada yang benar, sepatutnya, tidak sewenang-wenang.  Didalam bahasa Inggris keadilan ialah “justice”. Makna justice tersebut terbagi atas dua yaitu makna justice secara atribut dan juga makna justice secara tindakan. Makna justice secara atribut ialah suatu kuasalitas yang fair atau adil. Sedangkan makna justice secara tindakan ialah suatu tindakan menjalankan dan juga menentukan hak atau hukuman. Begitupun menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata keadilan berasal dari kata dasar ”adil”, mempunyai arti kejujuran,  ketulusan,  dan keikhlasan  yang tidak berat sebelah.  Sehingga keadilan mengandung pengertian sebagai suatu hal yang tidak berat sebelah atau tidak memihak dan tidak sewenang-wenang. Keadilan ialah hal-hal yang berkenaan pada suatu sikap dan juga tindakan didalam hubungan antar manusia yang berisi tentang sebuah tuntutan agar sesamanya dapat memperlakukan sesuai hak dan juga sesuai kewajibannya.

Pengertian Keadilan menurut Para Ahli

  1. Aristoteles mengemukakan bahwa keadilan ialah tindakan yang terletak diantara memberikan terlalu banyak dan juga sedikit yang dapat diartikan ialah memberikan sesuatu kepada setiap orang sesuai dengan memberi apa yang menjadi haknya.
  2. Platomengemukakan bahwa keadilan ialah diluar kemampuan manusia biasa yang mana keadilan tersebut hanya ada di dalam suatu hukum dan juga perundang-undangan yang dibuat oleh para ahli.
  3. Thomas Hubbes mengemukakan bahwa keadilan ialah sesuatu perbuatan yang dikatakan adil jika telah didasarkan pada suatu perjanjian yang telah disepakati.
  4. John Raws mengemukakan bahwa keadilan adalah ukuran yang harus diberikan untuk mencapai keseimbangan antara kepentingan pribadi dan kepentingan bersama. Ada tiga prinsip keadilan yaitu : (1) Kebebasan yang sama yang sebesar-besarnya, (2) Perbedaan, (3) Persamaan yang adil atas kesempatan. Pada kenyataannya, ketiga prinsip itu tidak dapat diwujudkan secara bersama-sama karena dapat terjadi prinsip yang satu berbenturan dengan prinsip yang lain. John Raws memprioritaskan bahwa prinsip kebebasan yang sama yang sebesar-besarnya secara leksikal berlaku terlebih dahulu dari pada prinsip kedua dan ketiga.
  5. Frans Magnis Suseno mengemukakan bahwa keadilan ialah keadaan antarmanusia yang diperlakukan dengan sama yang sesuai dengan hak serta kewajibannya masing-masing.
  6. J.S Poerwadarminto mengemukakan bahwa keadilan ialah tidak berat sebelah yang artinya seimbang, dan yang sepatutnya tidak sewenang-wenang.
  7. Notonegoro mengemukakan bahwa keadilan ialah suatu keadaan yang dikatakan adil apabila sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku.
  8. Ibnu Taymiyyah (661-728 H) mengemukakan bahwa keadilan adalah memberikan sesuatu kepada setiap anggota masyarakat sesuai dengan haknya yang harus diperolehnya tanpa diminta; tidak berat sebelah atau tidak memihak kepada salah satu pihak; mengetahui hak dan kewajiban, mengerti mana yang benar dan mana yang salah, bertindak jujur dan tetap menurut peraturan yang telah ditetapkan. Keadilan merupakan nilai-nilai kemanusiaan yang asasi dan menjadi pilar bagi berbagai aspek kehidupan, baik individual, keluarga, dan masyarakat. Keadilan tidak hanya menjadi idaman setiap insan bahkan kitab suci umat Islam menjadikan keadilan sebagai tujuan risalah samawi.

Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia

Sila kelima berbunyi “Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia” memiliki lambang padi dan kapas. Dalam sila Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia didasari dan dijiwai oleh sila pertama, kedua,  ketiga, dan keempat. Sila ini mempunyai makna bahwa seluruh rakyat Indonesia mendapatkan perlakuan yang adil baik dalam bidang hukum, politik, ekonomi, kebudayaan, maupun kebutuhan spiritual dan rohani sehingga tercipta masyarakat yang adil dan makmur dalam pelaksanaan kehidupan bernegara. Sila kelima ini intinya bahwa adanya persamaan manusia didalam kehidupan bermasyarakat tidak ada perbedaan kedudukan ataupun strata didalamnya semua masyarakat mendapatkan hak-hak yang seharusnya diperoleh dengan adil. Dengan sila kelima, manusia Indonesia menyadari hak dan kewajiban yang sama untuk menciptakan keadilan sosial dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Dalam hal ini dikembangkan perbuatannya yang luhur yang mencerminkan sikap dan suasana kekeluargaan dan gotong royong. Untuk itu dikembangkan sikap adil sesama, menjaga keseimbangan antara hak dan kewajiban serta menghormati hak-hak orang lain. Dalam sila tersebutlah terkandung nilai yang merupakan tujuan Negara sebagai tujuan dalam hidup bersama. Maka nilai keadilan yang harus terwujud dalam kehidupan bersama adalah keadilan yang didasari dan dijiwai oleh hakikat keadilan kemanusiaan. Yaitu, keadilan hubungan manusia dengan dirinya sendiri, manusia dengan manusia lain, manusia dengan masyarakat, bangsa dan Negara serta hubungan manusia dengan Tuhannya.

Butir-butir implementasi sila kelima adalah sebagai berikut:

  1. Mengembangkan perbuatan-perbuatan yang luhur yang mencerminkan sikap dan suasana kekeluargaan dan kegotongroyongan.

Butir ini menghendaki agar setiap warga negara nerbuat baik satu sama lain. Perbuatan luhur dalam pengertian seperti apa yang diperintahkan Tuhan dan menjauhi yang dilarang. Perbuatan baik dan luhur tersebut dilaksanakan pada setiap manusia dengan cara saling membantu, bergotong-royong, dan merasa setiap manusia adalah bagian dari keluarga yangdekat yang layak dibantu, sehingga kehidupan setiap manusia layak dan terhormat. Bersikap adil. Butir ini menghendaki dalam melaksanakan kegiatan antarmanusia untuk tidak saling pilih kasih, dan pengertian adil juga sesuai dengan kebutuhan manusia untuk hidup layak, dan tidak diskriminatif terhadap sesama manusia yang akan ditolong.

  1. Menjaga keseimbangan antara hak dan kewajiban.

Butir ini menghendaki bawa manusia Indonesia jangan hanya mendahulukan hak-haknya seperti hak hidup bebas, berserikat, perlakuan yang sama, kepemilikan, dan lain-lain, tetapi menjaga kewajiban secara seimbang.  Kewajiban yang harus dilakukan adalah berhubungan yang baik dengan sesama manusia, membantu sesama manusia, membela yanng teraniaya, membarikan nasehat yang benar dan menghormati kebebasan beragama.

  1. Menghormati hak-hak orang lain.

Bahwa setiap manusia untuk menghormati hak orang dan memberikan peluang orang lain dalam mencapai hak, dan tidak berusaha menghalang-halangi hak orang lain. Perbuatan seperti mencuri arta orang lain, menyiksa, merusak tempat peribadatan agama lain, adalah contoh-contoh tidak menghormati hak orang lain.

  1. Suka memberi pertolongan kepada orang lain.

Mengembangkan sikap dan budaya bangsa yang saling tolong-menolong seperti gotong-royong, dan menjauhkan diri dari sikap egois dan individualistis.

  1. Menjauhi sikap pemerasan terhadap orang lain.

Butir ini menghendaki, manusia Indonesia bukanlah homo hominilupus (manusia yang memakan manusia yang lain). Manusia Indonesia tidak boleh memeras orang lain demi kepentingan sendiri. Contoh perbuatanya seperti melakukan perampokan, memberikan bunga terlalu tinggi lepada peminjam terutama pada kalangan orang kecil dan miskin.

  1. Tidak bersikap boros

Menghendaki manusia Indonesia untuk tidak memakai atau mengeluarkan uang, barang, dan sumber daya secara berlebihan.

  1. Tidak bergaya hidup mewah

Butir ini menghendaki agar untuk tidak bergaya hidup mewah, tetapi secukupnya sesuai dengan kebutuhan manusia itu sendiri. Ukuran mewah memang relatif, namun dapat disejajarkan dengan tingkat pemenuhan kehidupan dan keadilan pada setiap strata kebutuhan manusia.

  1. Tidak melakukan perbuatan yang merugikan kepentingan umum

Butir ini menghendaki warga masyarakat Indonesia untuk menjaga kepentingan umum dan prasarana umum, sehingga sarana tersebut dapat berguna bagi masyarakat luas.

  1. Suka bekerja keras

Untuk berusaha semaksimal mungkin dan tidak hanya pasrah pada takdir. Sebagai manusia yang bertaqwa kepada Tuhan, diwaibkan berusaha dan diiringi dengan doa.

  1. Menghargai karya orang lain

Agar warga negara dapat menghargai karya orang lain sebagai bagian dari penghargaan atas hak cipta. Proses penciptaan suatu karya membutuhkan suatu usaha yang keras dan tekun, oleh sebab itu dihargai.

Perwujudan Keadilan Sosial

Ya, saya pernah membantu seseorang dari kecelakaan sepeda motor. Ceritanya begini…

Pada waktu itu tepatnya pada sore hari, aku sedang menyiram tanam-tanaman hias di depan rumahku. Aku bersenandung ria menyiram tanaman tersebut sambil melihat suasana jalanan sekitar kompleks rumah yang dibatasi oleh pagar besi. Aku melihat dari kejauhan ada sebuah sepeda motor sedang melaju ke arah jalanan depan rumahku dengan kecepatan rata-rata. Ya memang masih kecepatan rata-rata sih, tetapi yang membuatku fokus melihat hal itu karena pengendara dan yang ditumpanginya tengah berbincang-bincang dengan suara yang sangat nyaring dan tertawa keras.  Sepeda motor tersebut berisikan 3 orang perempuan yang tidak menggunakan helm dan mereka terlihat ugal-ugalan. Mereka masih menggenakan baju OSIS tingkat SMP, adapun satu orang mengenakan baju biasa dan dua orang lainnya mengenakan baju sekolah dan mereka berdua berjilbab.

Tiba-tiba salah satu dari mereka yang tidak mengenakan baju sekolah itu telah terperosok ke bawah dan kepalanya langsung terbentur oleh batu kerikil di pinggir jalan itu. Pengendara dan temannya yang duduk dibelakangnya tidak terjatuh seperti dia, mereka terlihat baik-baik saja. Mereka pun panik seketika ketika mengetahui rambut temannya yang mengeluarkan darah. Mereka tak tahu harus bagaimana. Aku yang sedari tadi menyiram tanaman sembari melihat mereka pun langsung menghampiri mereka dan menolong temannya yang terjatuh itu. Aku menyuruh mereka untuk menghubungi kedua orangtua temannya yang terjatuh itu, tetapi mereka meenolak dengan alasan takut dimarahi. Aku tahu aku harus membawa kemana dan meminta izin kepada teman-temannya untuk membawa ia di tempat praktik dokter yang tak jauh dari rumahku, lantas aku pun meminjam sepeda motornya dan satu temannya mendampinginya dibelakangnya. Sesampainya aku disana, aku langsung memanggil dokter untuk meminta pertolongan. Kami bertiga tak membawa uang sama sekali. Aku ‘mengoceh’ untuk meminta pertolongan dengan tampang muka memelas dan berbincang-bincang sedikit dengan dokter itu. Ia menanyakan mengapa kepalanya sampai berdarah seperti itu, kami sekolah dimana, asal rumahnya dimana dll. Awalnya dokter tersebut hanya diam tak bertindak sama sekali dan menegaskan bahwa seharusnya ia dibawa ke rumah sakit karena luka di kepalanya cukup dalam, tetapi akhirnya dengan permohonanku yang memberi isyarat bahwa “Tolong dok, kasih dia obat penahan sakit atau apalah itu biar dia nggak ngerasa kesakitan. Kasihan dia udah keliatan lemas gak berdaya kek gitu. Nanti saya panggil adik saya untuk mengambil dompet saya yang ketinggalan di rumah”. Kebetulan memang kami tak membawa dompet, jadi saya menyuruh adik saya kesini untuk mengambil dompet. Dokter perempuan tersebut lantas langsung membersihkan dan mengobati luka-luka yang ada di kaki, pergelangan tangannya, dan menjahit kepalanya. *maaf, Aku lupa siapa nama anak tersebut*

Adikku pun datang dan membawa dompet serta ia bersama temannya satunya. Kedua temannya terlihat sangat khawatir melihat keadaan salah satu temannya itu yang sedang meringis kesakitan. Aku mencoba meminta nomer telepon orangtuanya untuk dihubungi. Akhirnya ibunya mengangkat telpon setelah lama dihubungi tidak ada jawaban dan ia langsung ke lokasi tersebut bersama pamannya si anak itu dengan membawa sebuah mobil. Dokter langsung mempersilahkan mereka masuk dan memberi obat serta mengurus administrasinya, sedangkan kami duduk di luar ruangan itu. Kata dokter ia harus dibawa ke rumah sakit untuk pengobatan lebih lanjutnya serta me-rontgen kepalanya. Ibunya pun berterimakasih kepadaku karena sudah menghubunginya segera dan membantu anaknya. Kedua temannya pun memeluk si anak itu karena seharusnya mereka bermain di suatu tempat dan palah kejadian tak terduga itu yang terjadi. Si anak dan teman-temannya itu pun jua, mereka mengucapkan terimakasih kepadaku telah menghubungi orang tuanya karena ia dan temannya tak ada pulsa untuk menelpon. Aku pun merasa itu merupakan kewajibanku ketika melihat seseorang yang sedang membutuhkan pertolongan itu harus ditolong segera. Mereka menceritakan kronologis sebelum kejadian itu dengan detail. Aku berbincang-bincang kepada ibunya dan ternyata ia kenal dengan ibuku. Aku bilang ke anak-anak itu bahwa hati-hati jika berkendara jangan ugal-ugalan dll, jangan takut dan malu untuk menghubungi orang terdekat jika sedang ada sesuatu yang urgent dan sebagainya. Aku merasa lega karena anak itu terlihat lebih baik, akupun berpamitan untuk pulang bersama adikku. Mereka pun juga meninggalkan tempat tersebut. Kami melambaikan tangan.
Pesan moral yang dapat dipetik dari ceritaku ini adalah tolonglah siapapun yang membutuhkan bantuanmu tanpa pamrih. Niscaya kebaikan dan keberuntungan akan selalu menyertaimu. aamiin~

Sumber :

http://www.gurupendidikan.com/10-pengertian-keadilan-dan-jenisnya-menurut-para-ahli/https://jamaluddinmahasari.wordpress.com/2012/04/22/pengertian-keadilan-diambil-dari-pendapat-para-ahli/

http://www.kompasiana.com/bebefaradiba/implementasi-sila-kelima-keadilan-sosial-bagi-seluruh-rakyat-indonesia_552fcb6b6ea8344b3e8b4567

Manusia dan Tanggung Jawab

Pengertian Manusia

Manusia adalah makhluk yang paling mulia disisi Allah SWT. Manusia memiliki keunikan yang menyebabkannya berbeda dengan makhluk lain. Manusia memiliki jiwa yang rohaniah, ghaib, tidak dapat ditangkap dengan panca indera yang berbeda dengan makhluk lain karena pada manusia terdapat daya berfikir, akal, nafsu, kalbu, dan sebagainya.

Pengertian manusia dapat dilihat dari berbagai segi. Secara bahasa manusia berasal dari kata “manu” (Sansekerta), “mens” (Latin), yang berarti berpikir, berakal budi atau makhluk yang mampu menguasai makhluk lain. Secara istilah manusia dapat diartikan sebuah konsep atau sebuah fakta, sebuah gagasan atau realitas, sebuah kelompok (genus) atau seorang individu. Secara biologi, manusia diartikan sebagai sebuah spesies primata dari golongan mamalia yang dilengkapi otak berkemampuan tinggi.

Pengertian Tanggung Jawab

Tanggung jawab menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah keadaan wajib menanggung segala sesuatunya. Sehingga bertanggungjawab adalah berkewajiban menanggung, memikul jawab, menanggung segala sesuatunya atau memberikan jawab dan menanggung akibatnya.

Tanggung jawab adalah kesadaran manusia akan tingkah laku atau perbuatannya  yang disengaja maupun yang tidak disengaja. Tangung jawab juga  berarti berbuat  sebagai perwujudan kesadaran akan kewajibannya. Tanggung jawab itu bersifat kodrati, artinya sudah menjadi bagian kehidupan manusia, bahwa setiap manusia pasti dibebani dengan tanggung jawab. Apabila ia tidak mau bertanggung jawab, maka ada pihak lain yang memaksakan tanggung jawab itu. Dengan demikian tanggung jawab itu dapat dilihat dari dua sisi, yaitu dari sisi pihak yang berbuat dan dari sisi kepentinganpihak lain. Dari sisi si pembuat ia harus menyadari akibat perbuatannya itu, dengan demikian ia sendiri pula yang harus memulihkan kedalam keadaan baik. Dari sisi pihak lain, apabila si pembuat tidak mau bertanggung jawab, phak lain yang akan memulihkan baik dengan cara individual maupun dengan cara kemasyarakatan.

Apabila dikaji, tanggung jawab itu adalah kewajiban atau beban yang harus dipikul atau dipenuhi sebagai akibat dari perbuatan pihak yang berbuat, atau sebagai akibat dari perbuatan pihak lain, atau sebagai pengabdian, pengorbanan pada pihak lain. Kewajiban atau beban itu ditujukan untuk kebaikan pihak yang berbuat sendiri, atau pihak lain. Dengan keseimbangan, keserasian,keselarasan ntara sesama manusia, antar manusia dan lingkungan, antara manusia dan Tuhan selalu dipelihara dengan baik.

Tanggung jawab adalah ciri manusia beradab (berbudaya). Manusia merasa bertanggung jawab karena ia menyadari akibat baik atau buruk perbuatannya itu, dan menyadari pula bahwa  pihak lain memerlukan pengabdian atau pengorbanannya. Untuk memperoleh atau meningkatkan  kesadaran  bertanggung  jawab perlu ditempuh usaha melalui pendidikan, penyuluhan, keteladanan, dan takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.

A. Hubungan Antara Manusia Dengan Tanggung Jawab

Setiap manusia harus bertanggung jawab terhadap  diperbuatnya. Setiap manusia harus berani menanggung resiko dari apa yang dilakukannya. Allah telah menciptakan manusia lengkap dengan segala peralatannya, diberi hidup, akal dan budi. Semua pemberian itu harus dipelihara. Terhadap hidup, manusia dituntut tanggung jawabnya disamping menggunakan akal dan budinya itu sebagaimana mestinya, juga dituntut menanggung resiko akibat dari perbuatan akal budinya.

Sebagai makhluk sosial manusia juga dibebani tanggung jawab sosial pula. Setiap  angggota masyarakat dituntut untuk bertanggung jawab demi tegaknya peraturan. Semua perilaku setiap anggota masyarakat harus dapat diterima oleh masyarakat bersangkutan. Bila ada pelanggaran dia akan mendapatkan hukuman dari masyarakat bersangkutan.  Tanggung jawab manusia yang lainnya, tanggung jawab kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Manusia diberi tugas oleh Tuhan untuk menjadi khalifah di dunia, untuk mengatur alam semesta supaya tetap baik, harmonis dan dapat dimanfaatkan. Sehingga manusia bertanggung jawab terhadap alam semesta ini untuk dipelihara.

B. Macam-macam Tanggung Jawab

  1. Tanggung jawab terhadap diri sendiri

Tanggung jawab terhadap diri sendiri menuntut kesadaran  setiap orang untuk memenuhi kewajibannya  sendiri dalam mengembangkan  kepribadian  sebagai  manusia pribadi. Dengan demikian  bisa memecahkan  masalah-masalah  kemanusiaan  mengenai  dirinya sendiri. Menurut sifat dasamya  manusia  adalah mahluk bermoral, tetapi manusia juga seorang pribadi. Karena merupakan  seorang  pribadi  maka  manusia  mempunyai pendapat  sendiri, perasaan sendiri angan-angan  sendiri. Sebagai perwujudan dari pendapat, perasaan dan angan-angan  itu manusia berbuat  dan  bertindak.  Dalam hal ini manusia tidak luput  dari  kesalahan,  kekeliruan, baik yang  disengaja maupun tidak.

Contoh : Sebagai seorang mahasiswa yang bertanggung jawab terhadap kuliahnya, kita wajib untuk belajar dengan sungguh-sungguh dan bertanggung jawab mengerjakan tugas-tugas yang diberikan dosen dengan tepat waktu.

  1. Tanggung jawab terhadap keluarga

Keluarga  merupakan  masyarakat  kecil. Tiap anggota  keluarga  wajib bertanggungjawab  kepada keluarganya. Tanggung jawab  ini menyangkut  nama baik keluarga. Tetapi tanggung  jawab juga merupakan kesejahteraan, keselamatan. pendidikan, dan kehidupan.

Contoh : Menjaga nama baik keluarga dengan cara bertindak dan berperilaku dengan sopan dan santun sesuai dengan aturan yang ada dalam masyarakat dan tidak melanggarnya.

  1. Tanggung jawab terhadap masyarakat

Pada hakekatnya  manusia  tidak bisa hidup tanpa bantuan  manusia  lain. sesuai dengan kedudukannya   sebagai  mahluk  sosial.  Karena  membutuhkan   manusia  lain  maka  ia  harus berkomunikasi  dengan  manusia  lain  tersebut.  Sehingga  dengan  demikian  manusia di  sini merupakan  anggota masyarakat  yang tentunya mempunyai tanggung jawab  seperti anggota masyarakat  yang lain agar dapat melangsungkan  hidupnya dalam masyarakat  tersebut. Wajarlah  apabila segala tingkah laku dan perbuatannya  harus dipertanggung  jawabkan  kepada masyarakat.

Contoh : Sebagai masyarakat, kita bertanggung jawab dalam menjaga kebersihan, keamanan dan ketentraman di lingkungan masyarakat setempat.

  1. Tanggung jawab terhadap Negara

Suatu kenyataan lagi, bahwa tiap manusia, tiap individu  adalah warga negara suatu negara. Dalam berpikir, berbuat, bertindak, bertingkah laku manusia terikat oleh norma-norma atau ukuran-ukuran yang dibuat oleh negara. Manusia tidak dapat berbuat semaunya sendiri. Bila perbuatan manusia itu salah, maka ia harus bertanggungjawab kepada negara.

Contoh : Menjaga persatuan dan kesatuan bangsa dengan menghindari sikap dan perilaku yang diskriminatif serta membina solidaritas sosial sebagai sesama warga negara Indonesia.

  1. Tanggung jawab terhadap Tuhan

Tuhan menciptakan manusia di bumi ini bukanlah tanpa tanggung jawab, melainkan untuk mengisi  kehidupannya  manusia mempunyai tanggung jawab Iangsnng ternadap Tuhan. Sehingga tindakan manusia tidak bisa lepas dari hukuman-hukuman  Tuhan yang dituangkan dalam berbagai kitab suci melalui berbagai macam agama. Pelanggaran dari hukuman-hukuman tersebut akan segera diperingatkan oleh Tuhan dan jika dengan peringatan yang keraspun manusia masih juga tidak menghiraukan maka Tuhan akan melakukan kutukan. Sebab dengan mengabaikan perintah-perintah  Tuhan berarti mereka meninggalkan tanggung jawab yang seharusnya  dilakukan manusia ternadap Tuhan sebagai penciptanya, bahkan untuk memenuhi tanggung jawabnya, manusia perlu pengorbanan.

Contoh : Melaksanakan kewajiban menjalankan agama Islam dengan beribadah (solat 5 waktu, dll) dan berdoa, karena itu merupakan tanggung jawab diri sendiri terhadap Tuhan.

Sumber:

http://elearning.gunadarma.ac.id/

https://www.academia.edu/3635945/Manusia_dan_Tanggung_Jawab_Serta_Pengabdian

https://sanusiadam79.wordpress.com/2013/05/01/manusia-dan-tanggung-jawab/